Metropolitan

kisah Seorang Ayah ‘Membelah’ Pemukiman di Jaksel Jajakan Mainan Sambil Boncengi Anaknya

Mainan kereta dorong warna warni terlihat memenuhi keranjang bagian depan dan belakang sepeda (39). Bersama anak semata wayangnya, Moon Aisyah Putri (4), yang duduk di keranjang belakang sepeda, Sigit menjajakan mainan itu menyusuri permukiman di kawasan Pasar Minggu. Pria yang mengenakan batik itu menggantungkan hidupnya dengan berjualan .

Dalam sehari, ia meraup sekira Rp 30 sampai Rp 40 ribu. Satu itu dijual dengan harga Rp 5 ribu. Penghasilannya dalam sehari bekerja, selalu Sigit sisihkan demi membeli susu bubuk untuk anak perempuannya yang masih dalam tahap pertumbuhan.

Sebelumnya, Sigit pernah mencari peruntungan dengan berjualan sop buah di kawasan Bogor, Jawa Barat. Namun, dagangannya tak bertahan lama hingga harus gulung tikar. Di tahun 2016, ia merantau ke Ibu Kota untuk berjualan mainan tersebut.

Mainan yang terbuat dari potongan kayu dan karet itu, lanjut Sigit, dibuatnya sendiri. Awalnya, mainan mainan itu dipikulnya berkeliling. Namun, suatu ketika ada seorang dermawan yang memberikan sebuah sepeda kepadanya.

Sejak itu, ia bersepeda bersama Aisyah, yang duduk di belakangnya, berjualan membelah permukiman. Semenjak pisah dengan ibunya, Aisyah hidup bersama Sigit dengan tempat tinggal yang tak menentu. Sigit mengaku harus tinggal mengemper bersama Aisyah dari satu tempat ke tempat lain lantaran sudah tak memiliki rumah untuk berlindung.

Ia sudah tak mengontrak lagi sejak tahun 2015 lantaran desakan ekonomi yang menderanya. Mereka berdua pun terkadang bermalam di emperan, misalnya, di tepi jalan, atau pos RW. Sepeda yang Sigit bawa ibarat sebuah lemari pakaian berjalan.

Sebab, di bak sepedanya berisi tumpukan pakaian untuk Sigit dan Aisyah. Akte kelahiran Aisyah dan beberapa foto kopi akte tersebut juga tersimpan di dalam tas yang diletakkan di keranjang depan sepeda. Sigit mengatakan Aisyah ingin sekali merasakan bergaul bersama teman temannya di taman kanak kanak.

Memang sudah seharusnya, anak seumurannya merasakan bangku sekolah. Namun, Sigit belum bisa mewujudkan keinginan itu. Aisyah pun terombang ambing dalam ketidakpastian hidup Sigit.

"Mau dimasukkan TK belum ada biaya. Kalau dagang enggak ke sekolah sekolah, karena saya enggak tega melihat Aisyah yang kepingin sekolah," tambahnya. Bahkan, tak jarang anak sekecil itu harus ikut ayahnya lari dari kejaran Satpol PP. Sudah tiga kali, lanjut Sigit, dirinya ditangkap oleh petugas itu.

Namun, tak sampai dimasukkan ke panti, Sigit dan Aisyah dilepas. "Udah ditangkap tiga kali, Aisyah juga menangis, mereka enggak tega. Saya juga nunjukkin akte kelahirannya ke petugas. Akhirnya kami dilepaskan," tambahnya. Sigit hanya berharap dirinya mampu memiliki rumah untuk bernaung dan membiayai pendidikan Aisyah kelak.

Berita Terkait

Ikatan Hakim Serahkan Kasus Tewasnya Jamaludin menuju Polri Tolak Berspekulasi

Artira Dian

Korban Tamansari Minta Komnas HAM Proses Pencabutan Penghargaan Kota Bandung Ramah HAM

Artira Dian

Ular Kobra di Depan Pintu Dikira Paket Kiriman

Artira Dian

Sekda DKI Bantah Berikan Draf Anggaran menuju Dewan di Penghujung Batas Waktu

Artira Dian

Sebut Air Sungai Naik setelah Dapat Limpahan dari Hulu TGUPP Beberkan Penyebab Banjir di Jakarta

Artira Dian

Anies Bilang Udara Jakarta Kotor Gara Gara PLTU, Ini Jawaban PLN

Artira Dian

Pemprov DKI Mulai Kirim Sepeda Motor Pemudik dalam Program Mudik Gratis

Artira Dian

Setelah Dicek Ternyata Bersumber dari Mayat Daniel Hamonangan Cium Bau Bangkai di Kamar Kos

Artira Dian

Pemprov DKI Tegaskan Revitalisasi Trotoar di Kemang Sesuai Aturan

Artira Dian

1 Tewas Lainnya Luka-luka Toyota Land Cruiser Tabrak Pedagang di Kota Tua

Artira Dian

Ratusan Warga Tanjung Priok Demo di Kantor Kemenkumham Protes Pernyataan Yasonna H Laoly

Artira Dian

Cerita Seorang Ayah ‘Membelah’ Pemukiman di Jaksel Jajakan Mainan Sambil Boncengi Anaknya

Artira Dian

Leave a Comment